SUATU SIANG DI BALAIRUNG UNIVERSITAS INDONESIA
Sabtu, 3 Desember 1994, antara jam 10.00 dan 14.30, di balairung Universitas Indonesia, Depok, berlangsung wisuda 14 akademi kesehatan se-DKI Jakarta. Siang itu, 528 lulusan akademi dan sekitar 1.000 pengunjung (panitia, keluarga lulusan, juru foto, dan penjaja makanan) memadati bangunan bergaya joglo yang anggun itu atau meramaikan pekarangannya yang hijau asri.
Selain resmi diundang, sebagian pengunjung, seperti halnya penulis, datang karena rasa hormat yang besar terhadap profesi paramedik. Rasa hormat itu bahkan mungkin lebih besar daripada terhadap dokter. Jujur saja. Yang pernah dirawat di rumahsakit pasti merasakannya. Memang dokter yang menentukan arah perawatan, tapi perawatlah yang paling lama mengurus kepentingan si sakit. Keterlibatannya lama dan padat, dari hari ke hari, jam ke jam, menit ke menit. Sekali lagi, jujur saja. Untuk semua itu, perawat umumnya dilupakan begitu pasien meninggalkan rumahsakit, sedang dokter tidak. Sebagai individu, perawat larut bagai seraut wajah dalam kerumunan belaka.
Mungkin itulah sebabnya mengapa perawat, sebagai profesi, tampil sekukuh kehidupan itu sendiri, dan sekaligus semurni nurani manusia yang lebih sering terlupakan itu. Bila teringat, kekukuhan dan kemurnian itu menuntut pengakuan, terkadang tidak tanpa rasa bersalah. Saat itulah, seperti halnya dengan wisuda ini, sayup-sayup kita rasakan bahwa jika dokter telah memperoleh imbalan yang pantas untuk pekerjaannya, perawat tidak.
Sejarah pun menjaga kekukuhan hidup dan kemurnian nurani itu. Tak ada dokter yang mengukir kasih perawatan sedalam Henry Dunant, Florence Nightingale, atau Ibu Theresa. Kalau pun ada, pastilah karena si dokter telah mengabdi sebagai perawat, seperti halnya Albert Schweitzer. Jadilah profesi perawat sebagai wujud paling nyata kemuliaan hati manusia, kemuliaan yang mengatasi segala perbedaan berdasarkan jenis kelamin, tingkat sosial, suku, ras, bangsa, bahkan agama. Sebagai profesi, perawat menjadikan semua itu sumpah setianya.
***
Semua itu langsung terasa begitu masuk kawasan balairung. Maklumah, kawasan itu hijau teduh. Calon paramedik datang dengan bus carteran, beda dari lulusan universitas yang datang ke wisuda dengan sedan pribadi. Banyak keluarga tiba dengan bus kota. Yang datang dengan mobil pribadi, maka mobil itu kebanyakan jenis minibus yang murah. Citra pengabdian yang tulus dalam profesi paramedik memang menonjol, tapi pendukungnya barulah mereka yang kehidupan sosial-ekonominya pas-pasan. Profesi itu belum menarik bagi kalangan atas di negeri kita, sangat berbeda dari teladan Henry Dunant yang konglomerat, atau Florence Nightingale yang putri seorang hartawan London.
Khas hajatan rakyat kecil, citra pengabdian yang tulus itu tidak kaku tapi gemerencing dengan keriangan yang bebas. Ketika calon paramedik turun dari bus dan kumpul di setiap pintu masuk balairung, riuh-rendah senda-gurau di antara mereka, ditimpali teriakan kaget campur rindu anggota keluarga. Jauh segala sikap sopan yang kaku demi menjaga gengsi.
Sikap bebas dan riang itu makin menonjol justru karena calon paramedik kita itu kebanyakan perempuan, boleh jadi delapan untuk setiap dua pria. Hampir semuanya berpakaian putih metah, termasuk penutup kepala untuk gadis, entah topi kecil atau jilbab. Yang membedakan hanyalah paduan selempang warna kuning atau hijau atau biru atau lembayung dan motif mungil di atasnya. Selempang itu tersandang di leher dan menjurai ke dada, menyulap pemakainya jadi puisi. Ada memang segelintir yang berpakaian tradisional warna-warni, dan seorang berpangkat bintara dengan seragam hijau, tapi mereka lebih merupakan selingan yang lucu daripada mengganggu.
disadur dari tulisan :
| Last Updated ( Monday, 13 December 2010 13:23 ) |
